"Jika berkali-kali terulang maka
semua selalu terasa lebih. Saat diri sebagai manusia menyadari
sepenuhnya bahwa Ia hidup maka saat itu pula terasa menyakitkan bahwa
diri ini mungkin sudah lama mati"
Semua manusia terlihat aneh di mataku. Siapapun bicara seolah tahu apa
itu kebaikan dan keburukan? seakan mereka menyadari bahwa Apa yang
mereka anggap baik maka itulah Kebaikan dan Apa yang mereka anggap buruk
maka itulah Keburukan. Terlihat jelas di mataku Noda hitam bagi mereka
yang tidak melihat. Mereka yang berbicara atas nama kebaikan, mereka
yang menyeru pada keluhuran, mereka yang menasehati dalam kebenaran
ternyata tidak pernah terlepas dari Rantai Noda yang melilit dengan
erat. Ada di antara mereka
yang berkata “Kasihanilah sesama” tetapi saat berjalan pandangan
matanya tidak pernah teralih ketika ada anak kecil yang menangis di
depannya. Anak menangis itu biasa, sungguh sangat biasa sehingga tidak
ada yang perlu diributkan. Begitu terbiasa hingga lupa kalau ada, yah
begitulah kenyataan yang terlihat. Seringkali Ia berbicara etika yang
luhur, seringkali ia bicara tentang kasih sayang terhadap sesama
manusia tetapi Mengapa sebuah tangisan tidak menusuknya begitu dalam.
Padahal Anak itu menangis karena ia belum makan sejak pagi tadi.
Bukankah sangat mudah untuk memberi makanan? ya mudah sekali tetapi
ternyata sangat sulit untuk tahu bahwa ada anak yang menangis karena
lapar. Dalam pikirannya Biasalah anak kecil menangis paling-paling cuma
kenakalan anak kecil. Bagaimana bisa tahu kalau tidak pernah terusik
untuk tahu, bagaimana bisa peduli kalau tidak pernah terusik untuk
peduli. Semua orang peduli tetapi hanya sedikit orang yang terusik
untuk peduli. Ada di antara
mereka yang berkata “perlakukan orang lain sebagaimana kau ingin
diperlakukan”. Perkataan yang sungguh mulia. Ingin sekali kuhormati
orang yang berkata begitu seandainya saja aku tidak melihat ketika ada
orang tua yang berkata kapadanya “Maaf saya sakit” Ia menjawab
“kesebelah situ saja, saya lagi sibuk”. Tidak tahukah ia kalau dari
tadi orang tua itu berjalan kesana kemari karena entah mengapa semua
orang menjadi sibuk ketika ia sedang sakit. Sungguh seperti tidak ada
yang patut disesali, karena rasa sakit orang lain tidak terasa begitu
nyata dengan rasa penat yang dialami. Siapapun ingin ketika dirinya
merasa sakit maka Ia mendapat pertolongan dari mereka yang mampu
menolongnya. Orang tua itu sangat sederhana, dalam anggapannya setiap
mereka yang tampak putih adalah orang yang tepat untuk diminta tolong.
Benar sekali hanya saja satu-satunya yang tidak diketahui orang tua itu
adalah Mereka yang tampak putih itu mungkin juga sedang sakit.
Ada di antara mereka yang berkata “Hormati pendapat orang lain”. Ini
kebaikan yang begitu biasa dan sangat umum. Anehnya kebaikan ini
ternyata juga luar biasa ketika ada banyak noda yang menghiasinya. Tidak
jarang hanya karena berbeda tempat dan bagian maka semuanya menjadi
begitu berbeda. Ia boleh saja seorang yang sangat ahli tetapi tidak
berarti mereka yang tidak diakui sangat ahli adalah orang yang dengan
mudahnya diacuhkan. Mungkin Ia tidak akan menganggap Semua pendapat
selainnya salah tetapi Ia cuma tidak mengacuhkan bahwa Orang lain bisa
lebih benar dari dirinya dalam kasus tertentu. Orang ini bersikap
sederhana dengan ide universal bahwa semua orang harus dihormati
pendapatnya tetapi Dirinya begitu mudah mengeluarkan kata-kata “gimana
sih kok begitu saja tidak bisa”, atau “duh jangan buat saya tertawa”
atau “yang atasan disini siapa”, atau “memangnya kamu itu siapa”.
Ternyata Memang kita harus menghormati orang lain sesuai dengan
statusnya, siapakah ia atau dari golongan manakah ia.
Siapa saja tidak bisa menerima kata-kata yang kasar, itu adalah hal
yang sudah menjadi kesepakatan umum tetapi sayangnya tidak semua orang
menyadari bahwa hampir semua orang mudah sekali berkata kasar. Hal yang
sederhana kadang membuat orang menjadi mudah sekali marah jika ia
sedang benar-benar lelah. Terbayang kejadian seeorang yang minta
tolong...!!!“Pak tolong lihat ayah saya, dia menggigil”. Orang itu
menjawab “kenapa sih dari tadi mengeluh terus”. Sungguh sangat dimaklumi
kalau orang itu benar-benar lelah karena dari tadi kerjanya berjalan
kesana kemari menangani orang-orang yang mengeluh dengan semua macam
keluhan. Tetapi bukankah laki-laki itu tidak tahu? Ia cuma ingin
menolong ayahnya, seandainya bisa mungkin ia sendiri yang akan menolong
tetapi ketidakmampuan telah membuatnya berpikir satu-satunya yang bisa
diminta tolong dan mampu disitu adalah orang yang ternyata sudah begitu
lelah untuk mengurusi orang lain. Sepertinya kelelahan mudah sekali
menginduksi kekasaran dan disitu sepertinya Kezaliman yang kecil bermain
dengan sangat mudahnya.
Setelah terpandang olehku banyak manusia maka kualihkan pandangan pada
diriku. Betapa mengerikannya ketika kulihat Rantai yang melilitku jauh
lebih banyak dan noda itu jauh lebih pekat. Betapa itu membuat diriku
benar-benar jatuh. Jatuh dalam keputuasaan akan apa itu yang namanya
kebaikan dan keburukan. Pikiran ini entah mengapa menjadi terganggu.
Betapa banyak Orang Baik yang ternyata adalah Orang Yang Dikira Baik.
Betapa banyak Orang Mulia yang ternyata Sama Buruknya dengan yang lain.
Betapa banyak keburukan yang ternyata tersemat dalam kebaikan.
Keburukan Yang Terantai Dengan Erat Dalam Kebaikan Manusia.
No comments:
Post a Comment