Aristoteles dilahirkan pada 384 SM di Stageira, Thrace sebuah kota di Yunani Utara.
Dilihat dari posisi keluarganya, Aristoteles berasal dari kelas elit.
Ayahnya adalah seorang dokter pribadi raja Makedonia II, Amyntas. Jelas
keluarganya merupakan orang berpendidikan.Dilihat dari keluarganya
inilah, ada sebuah dugaan bahwa spirit dan kecintaan Aristoteles
terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat merupakan pengaruh dari
keluarganya.
Pada
umur sekitar 17/18 tahun, Aristoteles dikirim ke Athena untuk berguru
kepada Plato---seorang pendiri dan sekaligus rektor universitas terkenal
di Yunani pada waktu: Akademia.
Ia belajar di Akademia hingga Plato meninggal. Di universitasnya Plato
ini, ia tidak sekedar belajar, melainkan juga mengajar para santri
Akademia yang lebih yunior tentang logika dan retorika.
Paska
wafatnya Plato, Akademia dipimpin oleh Speusippos. Ketika Akademia di
bawah kepemimpinan Speusippos inilah, Aristoteles bersama murid Akademia
yang lainnya, Xenokrates, meninggalkan Akademia karena berbeda
pandangan dengan Speusippos soal filsafat. Filsafat oleh Speusippos
cenderung disederajatkan dengan matematika.
Karena
perbedaan itulah Aristoteles minggat dari Athena dan menuju Assos,
sebuah daerah di pesisir Asia kecil. Pada waktu itu Assos berada di
bawah kekuasaan Hermias. Dan Hermias sendiri adalah alumni Akademia yang
telah meminta Plato mengirimkan dua orang muridnya, Erastos dan
Koriskos, ke Assos untuk membuka sekolah baru di daerah itu. Maka,
ketika Aristoteles sampai di daerah kekuasaan Hermias itu, ia dan
sahabatnya itu bergabung dengan civitas akademika di Assos untuk ikut
berperan sebagai pengajar.
Di
sini pula Aristoteles menikah dengan kemenakan Hermias, Pythias. Namun,
ketika 345 tragedi politik terjadi yakni Hermias telah dibunuh oleh
tentara Persi. Pembunuhan ini memaksa Aristoteles meninggalkan Assos dan
pergi ke Mytilene di kepulauan Lebsos yang jaraknya tidak jauh dari
Assos. Di dua daerah pelarian inilah (Assos dan Mytilene) Aristoteles
telah berhasil melakukan riset tentang binatang (zoology) dan tumbuhan
(bootany) yang hasil risetnya itu dibukukan dalam sebuah seri bernama Historia Anemalium.
Ketika pada 342/343SM
Aristoteles dipanggil oleh raja Makedonia, Philippos, keturunan dari
Amyntas II, untuk mengajar anaknya yang bernama Alexander yang waktu itu
berusia 13 tahun.Banyak orang berpandangan soal kebesaran dan
kesuksesan Alexander terkait dengan hubungannya dengan Aristoteles.
Padahal hubungan antara guru dan murid ini lebih banyak berupa legenda
dan belum ditemukan data-data validnya. Bertrand Russell sendiri
mengatakan “Perihal pengaruh Aristoteles terhadapnya (terhadap
Alexander-red), kita bebas mengajukan dugaan apapun yang kira-kira paling masuk akal. Menurut saya pengaruhnya nihil.”
Selanjutnya
pada tahun 340 Alexander diangkat sebagai wakil bapaknya sebagai raja.
Tidak lama kemudian pada umur 19 tahun Alexander diangkat sebagai raja
Makedonia. Selesailah tugas Aristoteles sebagai guru Alexander. Maka
ketika Alexander The Great dilantik menjadi raja Makedonia, Aristoteles
kembali ke Athena, tempat dulu ia belajar kepada Plato. Ketika ia
kembali ke Athena itu, temannya yang dulu dia ajak pergi ke Assos,
Xenokrates, sudah menjadi rektor Akademia. Namun sekembalinya ke Athena
Aristoteles tidak lagi bergabung dengan Akademia, karena pemikirannya
sendiri sudah lebih berkembang ketimbang pemikiran filsafat madzhab
Akademia.
Akhirnya, dengan bantuan dari Makedonia, ia mendirikan universitas sendiri dengan nama Lykeion atau dalam bahasa latinnya Lyceium. Dengan semangat intelektual yang tinggi dari para civitas akademika Lykeion,
univeristasnya Aristoteles ini membuka dan mempelajari semua cabang dan
disiplin ilmu pengetahuan. Di universitasnya inilah, Aristoteles
membangun perpustakaan yang mengumpulkan bermacam-macam manuskrip dan
peta bumi; dan menurut Strabo—seorang sejarawan Yunani-Romawi--, itulah
perpustakaan pertama dalam sejarah umat manusia. Akhirnya Lykeion, pada perkembangan selanjutnya menjadi saingan berat dari Akademia.
Persaingan ini membuat Aristoteles semakin bernafsu untuk mempertajam
riset-risetnya. Hasilnya, ia tidak hanya dapat menjelaskan
prinsip-prinsip sains, tetapi juga mengajarkan politik, retorika dan
dialektika.
Posisi
Arstoteles yang sangat potensial di Athena itu lama kelamaan tidak
aman. Ini berkaitan dengan meninggalnya Alexander Agung yang menyebabkan
Athena hendak melepaskan diri dari Makedonia. Gerakan anti-Makedonia
semakin meluas di Athena dan ini berimbas buruk terhadap Aristoteles.
Karena kedekatannya dengan raja Makedonia itu, ia dituduh oleh
orang-orang Athena yang anti-Makedonia sebagai atheis dan penyebar
ajaran subversif. Karena tuduhan dan serangan-serangan orang-orang
Athena itu, ia berpikir lebih bijak: lebih baik meninggalkan Athena.
Selanjutnya urusan universitas Lykeium
ia serahkan ke tangan muridnya, Theoprastos dan Aristoteles sendiri
pindah dan melarikan diri ke Khalkis dan meninggal di sana pada tahun
322.
Onotologi Aristoteles
Cabang pertama filsafat adalah ontologi
atau metafisika. Bidang ini dalam filsafat lebih terfokus membincangkan
soal realitas atau Ada. Teori metafisikanya Aristoteles ini merupakan
hasil kritiknya terhadap konsep ide Universal gurunya, Plato. Seperti
yang telah banyak dijelaskan bahwa menurut Plato, realitas yang
sesungguhnya hanya ditemukan dalam ide-ide arketip, hal-hal yang
universal, seperti manusia atau negara secara umum. Hal-hal yang
partikular yang ditangkap oleh indra hanyalah banyangan ide-ide
tersebut---bayangan dari realitas---yang merupakan obyek opini tetapi
pengetahuan sejati. Universal di sini hanya bisa dihadirkan lewat akal
dan bukan oleh pengalaman karena ia hidup di luar dunia temporal.
Karena
itulah Plato dikenal sebagai filsof idealisme karena meyakini bahwa
kebenaran dan pengetahuan sejati hanya ada di dunia ide yang sifatnya
lebih universal. Pemikiran Plato inilah yang digugat oleh Aristoteles.
Dia menganggap bahwa teori idenya Plato itu tidak mungkin sanggup
memahami dunia empirik yang sebenarnya. Kalau Plato seperti di atas
menegaskan bahwa universalitaslah yang sebenarnya ada dan yang
partikular tidak mungkin ada tanpa eksisnya yang universal, maka
Aristoteles justru berpendapat sebaliknya, bahwa yang universal itu tak
dapat eksis dengan dirinya sendiri, melainkan hanya berada di dalam hal-hal yang partikular.
Sebab,
bagi Aristoteles, universalitas adalah sesuatu yang sifatnya esensial
dan partikularitas adalah sesuatu yang material. Esensi yang sifatnya
universal itu memang ada dalam akal, tetapi universalitas esensi itu
sendiri tidak mungkin terpisah dari unsur material dan partikularnya.
Karena itu, Aristoteles berpendapat bahwa esensi tidak bisa dipahami
sebagai entitas yang berbeda dari pengalaman.
Universalitas
adalah sesuatu yang ada di setiap indifidu dan bukannya terbatas pada
satu indifidu. Kalau kita tarik pada level kebahasaan, universalitas ini
ada dalam kata-kata sebagai nama diri dan makna dari kata-kata itu.
Ketika sebuah kata telah dibakukan menjadi sebuah nama diri, maka ia
jelas mengacu kepada benda atau orang tertentu. Namun, apabila kata itu
dibedah maknanya, ia akan mengacu dan merangkum banyak benda atau
manusia. Ambil contoh saja kata Muhammad, Soekarno, Gus Dur, Bumi,
Bintang dan sebagainya. Lihat! tidak ada banyak benda atau banyak
sesuatu yang dimaksud oleh kata-kata itu. Kata-kata itu hanya mengacu
pada satu sosok dan satu benda.
Namun
juga ada kata-kata seperti manusia, burung, pohon, bunga dan
sebagainya. Dari kata-kata terakhir itu jelas bahwa di dalamnya mengacu
dan merangkum banyak jenis benda sehingga menunjukkan universalitas.
Bunga adalah sebuah kata yang universal karena di dalamnya terdapat dan
merangkum terhadap berbagai jenis bunga seperti mawar, melati, dahlia
dan sebagainya. Begitu juga manusia adalah sebuah kata yang umum karena
di dalamnya mengandung banyak indifidu manusia seperti Adam, Hawa,
Muhammad, Yesus, Socrates dan seterusnya.
Universalitas
ini muncul karena dia bukan menjadi nama diri melainkan sangat terkait
dengan makna kata-kata itu dan sifat-sifat yang terkandung dalam
pengertian kata-kata tersebut. Dari pengambilan analogi ini, Aristoteles
hendak menegaskan bahwa universalitas adalah sebuah identifikasi yang
bisa dilekatkan terhadap banyak subyek. Baginya, yang diacu oleh nama
diri adalah substansi yang merupakan kekhasan dari sesuatu itu sendiri
sementara yang diacu oleh makna dan sifat kata itu adalah sebuah
kelompok. Sehingga ia sampai pada kesimpulan bahwa ‘tampak mustahil
bahwa sebuah istilah universal menjadi nama suatu substansi…Sebab
substansi suatu hal adalah sesuatu yang khas pada dirinya sendiri yang
tak menjadi bagian dari sesuatu yang lain, sementara universal bersifat
umum, karena apa yang disebut universal menjadi bagian lebih dari yang
lain”.
Konsep
universalitas dan partikularitas yang melalui konsep nama diri dan
makna kata dari Aristoteles ini tidak sepenuhnya benar. Karena faktanya
banyak kata atau istilah universal yang menjadi nama orang atau benda.
Seperti kata ‘bunga’ sendiri banyak dijadikan sebagai nama diri baik
untuk manusia atau benda kesayangan.
Selanjutnya,
gugatan Aristoteles terhadap konsep-konsep metafisiknya Plato itu juga
terkait dengan teorinya Aristoteles soal bentuk (morphe) dan materi (hyle).
Bentuk adalah Ide dan setiap Bentuk atau Ide tertuju kepada materi dan
tidak mungkin bisa dilepaskan darinya. Bentuk adalah esensi dari sebuah
benda.
Konsep tentang materi dan bentuk ini misalnya manusia adalah materi
sementara Bentuk, Ide atau Esensinya adalah kemanusiaan. Pohon adalah
materi, sementara kepohonan adalah Bentuk, Ide atau Esensi dari pohon.
Dari konsep bentuk dan materi ini Aristoteles menegaskan bahwa sesuatu
adalah terbatas. Ia berada dalam bentuk-bentuk yang terbatas. Ketika
sesuatu itu mengaktual, maka ia pun menjadi sesuatu yang berbeda dengan
sesuatu yang lain yang bentuknya terbatas pula. Selama ia tidak bisa
dibedakan dengan yang lain, maka ia bukanlah sesuatu.
Sesuatu
yang menjelma atau mengaktual dalam bentuknya yang material sedemikian
rupa, karena memang secara Ide, Bentuk atau Esensinya juga semacam itu.
Namun yang harus diegaskan di sini oleh Aristoteles adalah bahwa Ide-Ide
atau Esensi itu tidak berdiri sendiri. Dalam kenyataannya yang ada
adalah unsur-unsur materi. Maka menurut Aristoteles, esensi itu sendiri
sebenarnya adalah diangkat atau diserap dari unsur-unsur materi
tersebut. Dengan apakah mengangkat Esensi atau Ide itu? kata Aristoteles
adalah lewat abstraksi. Abstraksi ini merupakan kemampuan yang dimiliki
oleh rasio. Esensi adalah sesuatu yang bersifat konseptual, dan
karenanya dapat diketahui dengan menggunakan akal. Proses abstraksi ini merupakan proses penyerapan sisi-sisi ideal dan abstrak dari sesuatu yang konkrit dan material.
Pemikiran Metafisikanya Aristoteles itu sampai pada konsep dia tentang Allah. Buku ke XII Metaphysic-nya berisi tentang penjelasan-penjelasan mengenai Allah sebagai Penggerak Utama yang tak Tergerakkan (unmoved mover). Menurut Aristoteles, penggerak utama ini merupakan Aktus murni
yang terlepas dari materi dan bersifat abadi. Karena penggerak utama
itu tidak bermateri, maka Ia pun tidak berpotensi, melainkan benar-benar
Aktus Murni. Yang dimaksudkan dengan Aktus Murni di sini adalah bahwa
bagi Aristoteles, aktivitas itu tidak bisa lain daripada pemikiran saja.
Karena Allah bersifat immaterial atau tak badani, ia harus disamakan
dengan kesadaran atau pemikiran.
Karena
ia merupakan wujud dari aktivitas berpikir, maka satu-satunya aktivitas
bagi Aktus Murni adalah berpikir saja. Soalnya kalau Ia melakukan
aktivitas lain selain berpikir, ia jelas membutuhkan obyek lain di luar
dan bergantung pada sesuatu. Sehingga dalam aktivitas berpikir sebagai
satu-satunya aktivitas Aktus Murni yang maha tinggi dan maha sempurna
yakni pemikiran Tuhan itu sendiri. Maka Aristoteles menyatakan : “Allah
adalah pemikiran yang memandang pemikirannya (noesis noeseos; thought of thought).
Epistemologi Aristoteles
Setelah mengkaji sekilas tentang sisi ontologi Aristoteles, maka selanjutnya adalah kita mencoba menguak sisi epistemologi
Aristoteles. Dalam ranah epistemologi atau pengetahuan Aristoteles juga
berperan besar karena dia telah berhasil merumsukan konsep logika.
Logika merupakan yang paling utama dalam filsafat pengetahuan atau
filsafat. Konsep logika yang ditemukan oleh Aristoteles adalah konsep
silogisme yang merupakan patokan bagi seseorang untuk berpikir benar.
Logika, baik sebagai instrumen epistemologi maupun sebagai pengantar
penting untuk studi teologi, yang menempati peran penting dalam
perkembangan pemikiran di abad Tengah.
Bagi
Aristoteles, pengetahuan bisa diperoleh melalui dua jalan yaitu induksi
dan deduksi. Induksi merupakan pola berpikir dari melihat fakta-fakta
yang khusus untuk menuju kesimpulan yang umum dan sebaliknya deduksi
berangkat dari pernyataan-pernyataan yang sudah teruji kebenarannya yang
bersifat umum untuk menuju kesimpulan yang khusus. Untuk induksi jelas
berangkat dari pengamatan indra terhadap obyek-obyek material sehingga
nantinya bisa dirumuskan sebuah teori yang umum dari benda-benda
tersebut. Sementara deduksi lepas dari pengamatan indrawi dan deduksi
inilah yang oleh Aristoteles dianggap sebagai jalan yang sempurna untuk
menuju pengetahuan baru.
Bila
kita bandingkan dengan konsep ontologinya di atas, jelas nampak ada
kontradiktif. Ketika pada level ontologi Aristoteles bilang bahwa esensi
hanya ada pada benda-benda konkrit dan material-indrawi, tetapi pada
level epistemologi, ia justru lebih percaya pada metode deduksi yang
terlepas dari obyek-obyek material sebagai pencapaian pengetahuan.
Dengan lebih mengaksentuasikan pada metode deduksi berarti sama halnya
menafikan aspek-aspek indrawi dan material yang sebelumnya dibela
matia-matian oleh Aristoteles; dengan dikatakan sebagai bersemayamnya
esensi atau Ide; untuk menggugat idealisme universalnya Plato. Sehingga
sepintas seolah sama antara paradigma Plato dan Aristoteles soal
epistemologi.
Namun
tidak sesedarhana itu. Sebab,epistemologi Aristoteles juga mensyaratkan
banyak infrastruktur, yang meliputi logika dan juga indra. Dalam
keterangan di atas sudah disinggung soal abstraksi dari Aristoteles.
Nah, karena adanya proses abstraksi ini ilmu pengetahuan dimungkinkan,
tanpa mengandaikan ide-ide Plato.
Dalam proses abstraksi itu titik tolaknya jelas dari obyek material dan
indrawi.Inilah yang kemudian membedakannya dari Plato yang hanya
mengandalkan pancaran ide bawaan yang universal.
Sebagaimana
juga menurut Henry J. Schmandt, perbedaan epistemologi Plato dan
Aristoteles tercium dari konsep teori politik mereka. Berlawanan dengan
Plato, epistemologi Aristoteles memungkinkannya untuk mencari
prinsip-prinsip yang determinis, esensi dan hakekat, obyek dalam obyek
itu sendiri. Ini, lanjut Schmandt kemudian, bermula dari partikular dan
indvidu, bukan pada hal universal dan keseluruhan. Teori pengetahuan
mensyaratkan adanya metodologi untuk digunakan dalam pengujian dengan
dua cara: pertama, pelacakan harus bermula dari investigasi empiris atas
institusi dan praktik-praktik yang ada; dan kedua kajian harus bermula
dari bagian-bagian yang memperbaiki keseluruhan.
Melalui
penjelasan-penjelasan di atas jelas bahwa epistemologi Aristoteles yang
membedakan dengan Plato adalah dia berangkat dari hal-hal yang
material, partikular dan indrawi dan kemudian diabstraksikan sebagai
sebuah konsep pengetahuan yang ada dalam pikiran. Dalam hal ini ada
semacam penyelidkan indrawi dahulu sebelum mengkonstruknya menjadi
sebuah pengetahuan. Ini berbeda dengan Ide universalnya Plato yang
menyatakan bahwa pengetahuan manusia didapatkan dari pengingatan kembali
konsep-konsep dan nama-nama yang sudah ada dan matang di dalam dunia
ide. Manusia tidak perlu mengabstraksikan atau menyelidiki, melainkan
cukup mengingat dan membuka kembali file-file idea di dunia itu.Karena itulah, dalam filsafat Islam metode Aristoteles tersebut disebut dengan empiris (masyaiyyah), yang berlawanan dengan konsepnya Plato idealisme (Isyroqiyyah).
Berdasarkan sejarahnya, konon, metode ini diterapkan Aristoteles ketika
mengajar. Ketika dia mengajar, sikapnya tak pernah diam, melainkan
berjalan-jalan atau mondar-mandir. Namun menurut Muthahhari, masyaiyyah atau
paripatetik hanyalah sebuah sebutan atau nama dan tidak ada kaitannya
dengan metode Aristoteles dan para pengikutnya dalam mencari
pengetahuan. Bagi Muthahhari,jika hendak
menggunakan suatu kata yang sesuai dengan pengertian metode filsafat
Aristoteles, maka semestinya menyebut metode tersebut dengan metode
argumentasi dan bukannya paripatetik (empiris).
Aksiologi Aristoteles
Setelah
menbedah sisi ontologi dan epistemologinya, maka yang terakhir dalam
kajian filsafat Aristoteles ini adalah terkait dengan kajian aksiologi
dalam sistem filsafat Aristoteles. Aksiologi atau ilmu tentang nilai
dalam filsafat dibagi dua:etika dan estetika. Dalam kajian Aristoteles
lebih difokuskan pada soal etika. Etika merupakan cabang aksiologi yang
pada pokoknya membicarakan masalah prediket-prediket nilai ‘betul’ (right) dan ‘salah’ (wrong) dalam arti ‘susila’ (moral) dan ‘tidak susila’ (immoral).
Konsep
etika Aristoteles ini merupakan konsep moral yang mewakili masyarakat
pada zamannya, hal ini setidaknya yang diungkapkan oleh Russell. Dalam
mengkonstruk soal etika ini, Aristoteles lebh mendasarkan pada sisi yang
paling dalam dari manusia yakni jiwa. Disebutkan dalam bukunya Ethics disebutkan bahwa yang baik adalah kebahagiaan
yang merupakan aktivitas jiwa. Maka seluruh nilai keutamaan bersumber
dari jiwa ini. Jiwa manusia sendiri, menurut Aristoteles, terbagi
menjadi dua: rasional dan irrasional. Jiwa irrasional masih terbagi dua
lagi: vegetatif (yang bahkan
terdapat dalam tumbuh-tumbuhan) dan apetitif (yang ada dalam binatang).
Namun, pada derajat tertentu jiwa apetitif bisa menjadi rasional, ketika
kebajikan yang dicari seseorang bisa kongruen dengan nalar.
Terkait dengan dua jiwa di atas, keutamaan menurut Aristoteles terbagi menjadi dua: intelektual dan moral. Keutamaan intelektual dihasilkan dari pengajaran dan keutamaan moral dihasilkan dari kebiasaan.
Terkait dengan keutamaan moral itu, maka yang penting diusahakan
bukanlah artikulasi teoritis, melainkan tindakan praktis untuk melakukan
hal-hal yang baik secara terus menerus. Termasuk memaksakan sebuah
hukum mengenai hal-hal yang baik adalah usaha menanamkan keutamaan
moral.
Kata
Aristoteles, dengan dipaksa untuk menerima kebiasaan yang baik, suatu
saat kta akan menemukan kenikmatan. Aturan hukumnya dalam politik ini
juga terkait dengan persoalan etika. Bagi Aristoteles, hukum adalah alat
untuk menjamin bahwa tindakan politik didasarkan atas keinginan yang
benar. Aristoteles dalam kaitannya dengan etika dan politik lebih
berpegang pada sebuah dasar kepada ‘kejahatan watak manusia. Karena
kelemahan ini, memberikan kekuasaan tak terbatas kepada manusia bisa
membahayakan. Karena pada manusia nafsu seringkali mendominasi
rasionalitas, maka aturan hukum bisa-bisa arbriter dan egois,
menggantikan sikap rasional dan mensejahterakan semua.
Maka
bagi para pemegang kekuasaan dituntut menjalankan kekuasaannya sebatas
aturan hukum yang berlaku.Dan sebagaimana konsep politiknya yang lebih
memilih jalan tengah, ia merumuskan etika juga bersifat moderat atau
berlandaskan pada prinsip jalan tengah. Misalnya dia mengartikan setiap
keuatamaan sebagai sebuah pertengahan antara dua sisi ekstrim yang
masing-masing buruk. Seperti dia melakukan pengujian tentang sikap
keberanian yang dia menyimpulkan bahwa keberanian adalah sikap jalan
tengah antara sikap pengecut dan ugal-ugalan.
Karena
konsepnya mengenai keutamaan moralitas semacam itu, maka Aristoteles
tidak memasukkan kecerdasan rasio dan intuitif sebagai kecerdasan moral.
Boleh saja orang menyebut para penyair, sastrawan, seniman, dramawan,
cendekiawan sebagai orang-orang cerdas, tetapi mereka belum tentu cerdas
secara moral, mereka tak
bisa serta merta dikatakan sebagai orang saleh yang layak masuk surga.
Karena kriteria keutamaan moral Aristoteles adalah pada tindakan praktis
yang didorong oleh kehendak.
Keutamaan
terutama lebih berupa tindakan yang menghindari dosa daripada tindakan
apapun yang positif. Tak ada alasan untuk mengharapkan bahwa seorang
yang terpelajar akan lebih baik secara moral daripada orang yang tak terpelajar, atau orang yang pandai dibandingkan dengan orang yang bodoh.
Jadi seorang dosen etika yang menguasai seabrek teori-teori tentang
etika, berdasarkan teori Aristoteles ini, belum tentu menjadi orang yang
lebih bermoral dari para kuli pabrik atau para petani yang tak tahu
apa-apa tentang teori etika. Dan ini memang relevan dengan era sekarang
di panggung politik Indonesia. Banyak politisi yang sarjana bahkan
doktor; yang teori pengetahuannya soal etika dan kebijakan politik
melangit, tetapi kenyataannya mereka tetap korupsi.

No comments:
Post a Comment